KMPS Jurnalistik Islam UIN Syekh Wasil Kediri Gelar Seminar Jurnalogia 2026

Acara Seminar Jurnalogia di Gedung Rektorat Lantai 4 UIN Syekh Wasil Kediri. (Foto: Dok. Jurnalogia)

KEDIRI – Mahasiswa Program Studi (KMPS) Jurnalistik Islam UIN Syekh Wasil Kediri menyelenggarakan seminar jurnalistik bertajuk “Menimbang Masa Depan Jurnalisme Indonesia: Media Alternatif Sebagai Ruang Idealisme dan Tantangan Keberlanjutan” di Gedung Rektorat Lantai 4 pada Kamis (21/5/2026).

Seminar Jurnalogia merupakan bagian dari program kerja KMPS Jurnalistik Islam UIN Syekh Wasil Kediri yang akan dilaksanakan rutin setiap tahunnya. Untuk tahun ini, tepat dilaksanakan yang ke-2 kalinya.

Koordinator divisi acara, Naya Anggraini menjelaskan bahwa peserta seminar sudah 80% hadir, namun, untuk peserta lomba yang berpartisipasi kali ini masih belum sesuai harapan.

“Untuk peserta seminarnya itu sudah termasuk 80% dari peserta yang mengisi Google formulir. Namun, untuk target peserta lomba sendiri aslinya kurang 50% karena kesalahan dari pihak panitia sendiri yang kurang persiapan sehingga dalam waktu kurang beberapa minggu itu baru menyebarkan pamflet,” jelasnya. 

Dwidjo Utomo Maksum dan Alfan Amar Mujab Selaku Narasumber, beserta Evi sebagai Moderator Jurnalogia. (Foto: Dok. Jurnalogia)

Acara tersebut menghadirkan dua narasumber inspiratif yang mahir di bidang jurnalistik yaitu Dwidjo Utomo Maksum selaku Pemimpin Redaksi Kediripedia.com dan Alfan Amar Mujab yang menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Radio Cakra Krisna, Nganjuk. 

Alfan Amar Mujab, menjelaskan jika terdapat beberapa tantangan yang akan muncul ketika membangun media alternatif atau homeless.

“Kalau mau terjun di media alternatif atau homeless media ada beberapa tantangan yang harus dipersiapkan kedepannya yaitu, krisis model bisnis, serangan digital, keamanan jurnalis, algoritma, membangung kepercayaan publik,” ujarnya.

Alfan menambahkan, menurutnya terdapat cara yang bisa dilakukan untuk menjamin masa depan media alternatif.

“Yang pertama ya membangun komunitas, kemudian verifikasi pendapatan, transparansi, dan yang terakhir melakukan kolaborasi antar media alternatif bahkan media arus utama,” tambahnya.

Melalui pemaparannya, Dwidjo Utomo menegaskan bahwa menjadi seorang pemimpin redaksi harus memiliki sertifikat jurnalis utama.

“Dewan Pers menyatakan, media apapun pimpinan redaksinya harus punya sertifikat jurnalis utama,” tegasnya.

Dwidjo meyakinkan, bahwa jurnalisme mampu menjadi ladang kehidupan di masa depan.

“Kalian harus yakin, bahwa jurnalisme itu masih bisa menjadi ladang kehidupan.” jelasnya. Hal tersebut merupakan upaya membentuk semangat para mahasiswa jurnalistik, agar selalu optimis kedepannya.

Dalam sambutannya, Hafida Hakimatul Khoiriyah, Ketua KMPS Jurnalistik Islam mengingatkan bahwa sebagai mahasiswa Jurnalistik Islam harus terus belajar menjaga nilai, kebenaran dan tanggung jawab, serta mampu menghadapi tantangan perkembangan zaman.

“Sebagai Mahasiswa Jurnalistik Islam, ini adalah tantangan nyata. Kita perlu belajar bagaimana menjaga nilai-nilai kebenaran sekaligus tanggung jawab serta menghadapi perkembangan zaman,” ujarnya.

Ardan Farhan Al Fathani, sebagai Ketua Pelaksana menyampaikan harapannya untuk kegiatan seminar Jurnalogia kedepannya. 

“Saya harap acara kedepannya akan lebih baik dari acara ini,” ucapnya.

Baca juga : Menggandeng Tangan, Menyapu Debu : Menghidupkan Kembali Roh Gotong Royong Lewat (GRRM) Gerakan Resik-Resik Masjid

Program seminar Jurnalogia diselenggarakan oleh KMPS Jurnalistik Islam UIN Syekh Wasil Kediri dengan tujuan memberikan wawasan terkait dunia jurnalistik. Serta sebagai pengingat bahwa, mahasiswa jurnalistik harus terus belajar menjaga nilai, kebenaran dan tanggung jawab, serta mampu menghadapi tantangan perkembangan zaman. Selain itu, acara Jurnalogia merupakan upaya mengenalkan program studi Jurnalistik Islam kepada siswa dan siswi SMA/SMK sederajat.

Penulis: Putri Dwi Lestari





Posting Komentar

0 Komentar