Moment foto bersama komunitas Eskpedisi Atap Kediri di puncak gunung Wilis. Sumber by Wisnu Wardana (Narasumber) |
KEDIRI— Aktivitas mendaki gunung kini telah bergeser dari sekadar hobi ekstrem menjadi tren gaya hidup yang digandrungi banyak kalangan, termasuk anak muda dan pendaki pemula. Namun, di balik keindahan panorama samudra awan dan fajar, alam liar menyimpan risiko yang siap mengintai siapa saja yang datang tanpa persiapan matang.
Untuk mengupas tuntas mengenai esensi keselamatan dalam pendakian, kami berkesempatan mewawancarai Wisnu Wardana, seorang pendaki veteran yang telah aktif menjelajahi berbagai pegunungan sejak tahun 2018 sekaligus menjabat sebagai Ketua Ekspedisi Atap Kediri. Dalam obrolan mendalam ini, Wisnu membagikan tips keselamatan, mulai dari persiapan dasar hingga aspek mental yang wajib dimiliki oleh seorang pendaki pemula.
1. Persiapan Fisik dan Riset Mendalam
Menurut Wisnu, kesalahan terbesar banyak pemula adalah menganggap pendakian bisa dihadapi hanya dengan modal nekat dan antusiasme. Persiapan mendaki harus dimulai jauh-jauh hari sebelum kaki melangkah di jalur pendakian.
- Persiapan Fisik: "Minimal dua minggu sebelum mendaki, Anda wajib melakukan latihan kardio secara rutin, seperti jogging, berenang, atau naik-turun tangga. Ini krusial untuk melatih kapasitas paru-paru dan memperkuat otot kaki agar tidak kaget saat menghadapi tanjakan ekstrem," ujar Wisnu.
- Riset Jalur yang akan di tuju: Pelajari karakteristik gunung yang akan dituju, estimasi waktu tempuh antar-pos, ketersediaan sumber air, dan lokasi pos registrasi atau Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi).
- Manajemen Logistik: Pendaki harus mampu menghitung dengan cermat kebutuhan kalori dan air bersih yang disesuaikan secara presisi dengan durasi total pendakian.
- Manajemen Kelompok: Wisnu sangat menekankan aturan ini: jangan pernah mendaki sendirian. Pastikan di dalam rombongan terdapat pemandu (guide) atau minimal rekan perjalanan yang sudah berpengalaman menaklukkan gunung tersebut.
2. Perlengkapan Wajib sebagai Sistem Perlindungan Diri
Dalam dunia pendakian, peralatan bukanlah sekadar pelengkap, melainkan penentu bertahan hidup. Wisnu menegaskan agar pendaki tidak pernah berkompromi dengan kualitas dan kelengkapan alat, atau yang ia sebut sebagai sistem perlindungan diri.
Komponen pertama adalah pakaian dan alas kaki. Pendaki wajib mengenakan jaket yang memiliki fitur waterproof (tahan air) dan windproof (tahan angin), pakaian berbahan cepat kering (quick-dry), kaus tangan, serta kaus kaki cadangan. "Satu aturan mutlak hindari celana atau pakaian berbahan jin. Bahan jin sangat berat, menyerap air, dan lama kering, yang dapat mempercepat kondisi hipotermia," tegasnya.
Komponen berikutnya meliputi sistem tidur (tenda kokoh berbahan double layer, sleeping bag , dan matras), alat navigasi dan penerangan (headlamp atau senter beserta baterai cadangan, serta kompas atau peta digital), serta sistem memasak portabel yang disimpan di tempat kedap air. Terakhir, kotak P3K darurat yang berisi obat-obatan pribadi, plester luka, obat masuk angin, dan selimut darurat (emergency blanket) wajib berada di dalam ransel.
3. Memilih Gunung yang Ramah bagi Pemula
Bagi mereka yang baru pertama kali ingin merasakan pengalaman berkemah di alam bebas, pemilihan medan menjadi faktor penentu. Wisnu menyarankan tiga parameter utama dalam memilih gunung untuk pemula:
- Ketinggian Rendah hingga Sedang: Pilihlah gunung atau bukit yang memiliki ketinggian di bawah 2.000 MDPL (Meter di Atas Permukaan Laut). Hal ini penting untuk proses aklimatisasi, yaitu penyesuaian tubuh terhadap perubahan kadar oksigen dan tekanan udara.
- Jalur Jelas dan Ramai: Pilih gunung yang memiliki manajemen jalur pendakian yang jelas, dilengkapi papan petunjuk arah yang informatif, serta ramai dilalui oleh pendaki lain untuk meminimalisir risiko tersesat.
- Fasilitas Basecamp yang Baik: Pastikan adanya sumber air yang jelas di sekitar jalur atau basecamp, serta petugas registrasi yang sigap dan responsif jika terjadi keadaan darurat.
4. Mengatur Ritme Tubuh dan Efisiensi Langkah
Agar stamina tidak terkuras habis di awal perjalanan, Wisnu membagikan teknik berjalan di medan menanjak. Ia mengenalkan Prinsip Langkah Pendek, yaitu melangkah secara konstan dengan ritme yang stabil layaknya berjalan santai namun ritmis. Melangkah terlalu lebar atau terburu-buru justru akan menguras energi dalam sekejap.
Dalam manajemen istirahat, disarankan untuk melakukan istirahat singkat selama 1–2 menit dengan posisi berdiri bersandar pada tas carrier, alih-alih terlalu sering duduk lama. Duduk terlalu lama dapat membuat otot kaki menjadi kaku kembali dan menurunkan ritme tubuh yang sudah terbentuk. Di samping itu, hidrasi konstan minum air putih sedikit demi sedikit secara berkala tanpa menunggu haus—serta konsumsi makanan tinggi karbohidrat kompleks sebelum mendaki menjadi kunci pasokan energi yang stabil.
Untuk urusan logistik di atas gunung, Wisnu menyarankan kombinasi makanan padat gizi dan praktis:
- Makanan Utama: Beras (atau mi instan sebagai selingan), telur, sosis, kornet, atau makanan siap saji (MRE).
- Sumber Energi Cepat (Snack): Cokelat, kurma, madu, atau kacang-kacangan yang mudah dikunyah sambil berjalan.
- Minuman Pengganti Cairan: Air putih, minuman isotonik untuk menyuplai elektrolit, dan minuman penghangat tubuh (jahe atau teh) untuk malam hari.
5. Memahami hukum Etika dan Esensi Sejati Pendakian
Menutup sesi wawancara, Wisnu Wardana mengingatkan kembali kode etik fundamental yang wajib dipegang teguh oleh setiap pencinta alam, yaitu:
- Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar: Jaga kelestarian flora dan fauna, jangan merusak atau membawa pulang apa pun dari gunung.
- Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak kaki: Bawa pulang kembali seluruh sampah anda, tanpa terkecuali, termasuk puntung rokok dan tisu.
- Jangan merusak alam: Hormati seluruh kehidupan liar di gunung, serta hargai kearifan lokal, adat istiadat setempat, dan sesama pendaki dengan menjaga kesopanan serta tidak membuat kegaduhan di area perkemahan.
Bagi Wisnu, momen paling berkesan dalam mendaki bukanlah saat berdiri egois di titik tertinggi. Momen terbaik adalah kebersamaan di malam hari di depan tenda, berbagi cerita, menikmati minuman hangat, serta melihat bagaimana sebuah tim saling bahu-membahu membantu anggota yang kelelahan.
Baca juga : Petugas Keluhkan Ulah Warga Luar Daerah yang Buang Sampah di Luar Kontainer TPS Manisrenggo
"Jangan takut untuk memulai, setiap pendaki mahir awalnya adalah seorang pemula yang berani keluar dari zona nyaman. Mendaki gunung adalah cerminan dari karakter kita. Proses ini melatih kesabaran, kerendahan hati, dan pengelolaan emosi. Gunung adalah tempat terbaik yang menyaring ego manusia dan memunculkan ketulusan yang sesungguhnya," tutup Wisnu dengan bijak.
6 Komentar
berguna banget tips²nya🤩
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusjadi pengen naik gunung lagi
BalasHapusSemangat" gaes
BalasHapusSemangat 💪
BalasHapusTerima kasih informasi dan tips2 nya .. Jangan lupa naik gunung atau kemana pun harus minta izin dan ridho Orang tua guys!
BalasHapus