Lawan FOMO, Mahasiswa Psikologi Islam Bagikan Tips Cerdas Kelola Keuangan Anak Kos

Foto: www.pexels.com





KEDIRI - Maraknya fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan budaya nongkrong di kafe aesthetic kerap menjadi tantangan finansial besar bagi generasi muda, khususnya anak kos. Namun, dua mahasiswa UIN Syekh Wasil Kediri program studi Psikologi Islam semester 4 membuktikan bahwa pengelolaan keuangan yang cerdas dan disiplin mampu menjaga dompet mereka tetap sehat tanpa harus merasa tersiksa. (20/05/2026)

Fishal Dayana (21) yang kini menetap di Kos Alya, depan SDN Rejomulyo, membagikan rahasia hematnya. Guna menepis anggapan bahwa hidup hemat anak kos identik dengan mengonsumsi mi instan, Fishal memilih untuk memasak makanannya sendiri. 

"Biasanya kalau hemat itu aku lebih ke masak. Jadi biasanya budget Rp5.000 itu bisa buat sehari aja," ungkap Fishal. 

Menurutnya, pengeluaran anak kos sering kali membengkak akibat godaan membeli barang-barang lucu yang tidak seharusnya dibeli serta biaya perawatan diri seperti skincare. Untuk mengantisipasi kebutuhan darurat, Fishal memilih mengandalkan penghasilan dari pekerjaan sampingan agar tidak sepenuhnya bergantung pada kiriman orang tua. 

Pentingnya ketegasan mental dalam membentengi diri dari tren sosial juga menjadi sebuah solusi. "Jangan pernah menjadi people pleaser atau seseorang yang sulit mengatakan tidak. Kalau emang kondisinya lagi enggak ada, ya mending enggak usah aja," tegas Fishal mengenai cara menyiasati ajakan nongkrong. 

Senada dengan Fishal, Nurlaili Farida Salma (20) juga menerapkan strategi memasak untuk mengontrol pengeluaran dapur. Laili menyiasatinya dengan memasak hidangan kering yang tahan lama. 

Baca Juga: Membuang Meja Judi dan Menjemput Prestasi, Inilah Wajah Baru Domino di Kota Kediri

"Mungkin dengan cara masak sesuatu yang bisa bertahan beberapa hari. Jadi masak yang kering-kering aja, nanti kan bisa dibuat 2 hari, 3 hari," jelas Laili. 

Laili mengaku tidak pernah mengalami krisis keuangan ekstrem di akhir bulan karena selalu disiplin memisahkan uang simpanan dan uang kebutuhan sesaat setelah menerima kiriman bulanan. Selain itu, ia selalu melakukan ritual wajib membandingkan harga antar toko sebelum membeli perlengkapan kos demi mendapatkan harga terbaik. 

Terkait interaksi sosial, Laili yang kurang menyukai keramaian hanya akan pergi ke kafe jika ada agenda yang benar-benar penting, seperti mengerjakan tugas kuliah. Ia juga mendefinisikan self reward dengan cara yang sangat efisien dan tidak menguras kantong. 

"Self reward itu enggak harus berupa hadiah, makanan, atau yang lain-lain. Kalau saya, self rewardnya mungkin nonton atau lihat-lihat sesuatu yang saya suka aja," pungkas Laili. 

Bagi kedua mahasiswa Psikologi Islam ini, manajemen keuangan di masa kuliah bukanlah sebuah penderitaan. Sebaliknya, hal tersebut merupakan sebuah seni dan latihan penting untuk mengontrol diri sebagai bekal menghadapi masa depan.


Posting Komentar

5 Komentar