Menggandeng Tangan, Menyapu Debu: Menghidupkan Kembali Roh Gotong Royong Lewat (GRRM) Gerakan Resik-Resik Masjid

WhatsApp Image 2026-05-25 at 23.01.26.jpeg
Gerakan Resik-Resik Masjid (GRRM)

Saat itu, di sudut Kediri, sebuah obrolan hangat mengalir tentang bagaimana sebuah kepedulian kecil mampu menggerakkan ratusan tangan. Di tengah gempuran zaman digital yang kerap mencap generasi muda sebagai kelompok yang individualis, sekelompok mahasiswa justru memilih jalan yang berbeda. Mereka turun ke tempat ibadah, memegang sapu, menyikat lantai kamar mandi, dan menghidupkan kembali esensi sejati dari masyarakat Indonesia yaitu gotong royong.

Gerakan ini dikenal dengan nama Gerakan Resik-Resik Masjid (GRRM) Kediri. Sebuah aksi sosial yang digerakkan oleh para pemuda dan mahasiswa, salah satunya adalah Azza dan Muhammad Naim, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Kediri angkatan 2023. Melalui gerakan ini, mereka membuktikan bahwa kepedulian sosial bukan sekadar teori di dalam ruang kelas, melainkan aksi nyata yang langsung menyentuh hati masyarakat.

Awal mula gerakan ini sebenarnya lahir dari rahim yang tidak biasa. Bukan dari ruang rapat formal organisasi keagamaan, melainkan dari komunitas pencinta alam di Malang bernama Gimbal Alas. Para pencinta alam yang terbiasa menjelajahi sunyinya gunung ini, suatu ketika berinisiatif mencari bentuk kegiatan positif lain yang dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat luas.

Ide itu sederhana namun mendalam: membersihkan masjid. Percikan semangat dari Malang tersebut rupanya menjalar cepat ke berbagai daerah di Jawa Timur, hingga akhirnya menancapkan jangkar aktivitasnya di Kediri selama kurang lebih satu tahun terakhir.

“Tujuan murni untuk membersihkan masjid, terutama bagian-bagian yang sering kurang terawat atau luput dari perhatian, seperti kamar mandi, toilet, tempat wudhu, kipas angin, hingga jendela,” ujar Azza dengan antusias. 


Bagi mereka, kebersihan tempat ibadah adalah kunci utama kekhusyukan. Ketika karpet bebas dari debu dan tempat wudhu terasa segar, ada kenyamanan luar biasa yang dihantarkan kepada setiap jemaah yang datang untuk bersujud.

Namun, GRRM bukan sekadar tentang menyapu lantai yang kotor atau membersihkan langit-langit masjid dari sarang laba-laba. Jauh di balik untaian aktivitas fisik tersebut, ada misi besar untuk membangun kembali kepedulian sosial dan merawat silaturahmi yang mulai mengendur di masyarakat.

Saat aksi pembersihan berlangsung, sekat-sekat sosial melebur begitu saja. Mahasiswa yang datang dari berbagai latar belakang berbaur tanpa jarak dengan warga setempat dan pengurus takmir masjid. Mereka membagi tugas, saling mengoper ember, menyikat dinding, sambil sesekali melempar candaan yang memecah lelah.

“Suasana kebersamaannya sangat akrab dan penuh gotong royong. Kami saling bekerja sama dan bercengkerama dengan warga sekitar sehingga suasananya terasa hangat,” kenang Naim saat menceritakan pengalamannya di lapangan.

Respons masyarakat pun luar biasa hangat. Kedatangan para pemuda ini disambut layaknya keluarga sendiri. Tanpa diminta, warga lokal berbondong-bondong ikut membantu, menyediakan alat kebersihan, hingga menyajikan hidangan sederhana seperti pisang goreng, kue, dan minuman hangat sebagai bentuk apresiasi dan terima kasih. Gotong royong yang pudar di perkotaan seolah menemukan kembali rumahnya di teras-teras masjid ini.

Bagi para koordinator dan anggota GRRM seperti Azza dan Naim, ada perasaan magis yang sulit digambarkan dengan kata-kata ketika melihat sebuah sudut tempat ibadah yang semula kumuh dan berdebu berubah menjadi bersih dan wangi berkat kerja keras bersama.

“Yang paling berkesan bagi saya adalah saat kita melihat bagian masjid yang sangat kotor menjadi bersih kembali. Di situ ada rasa kepuasan tersendiri bagi saya,” ungkap Naim jujur.

Hingga saat ini, konsistensi gerakan yang sudah berjalan selama satu tahun di Kediri ini telah membuahkan hasil yang nyata. Sebanyak 27 hingga 28 masjid telah berhasil mereka jangkau dan bersihkan. Sebuah angka yang tidak kecil untuk sebuah gerakan yang digerakkan secara sukarela tanpa tarif sepeser pun. Semua dilakukan atas dasar izin, koordinasi yang matang dengan takmir masjid, dan niat tulus berbakti.

Seluruh kegiatan tersebut dijalankan secara mandiri oleh komunitas. Dana operasional berasal dari iuran dan swadaya anggota GRRM. Menariknya, gerakan ini tidak memungut biaya apa pun dari pihak masjid maupun warga setempat.

“Kalau ada warga yang ingin memberikan uang, biasanya kami menolak dengan halus. Karena memang tujuan kami murni membantu,” jelas Azza.

Semangat kerelawanan itu terus dijaga oleh para anggota GRRM Kediri. Mereka rutin menggelar kegiatan bersih-bersih masjid setiap dua minggu di berbagai wilayah. Konsistensi tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian sosial tidak selalu harus hadir dalam bentuk besar, tetapi dapat tumbuh dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan bersama-sama.

Baca juga : Dampak Cuaca Ekstrem Picu Kenaikan Harga Pangan, Masyarakat Kian Tertekan

Langkah kaki para relawan GRRM sendiri dipastikan belum berhenti. Ada harapan besar yang tersampir di pundak mereka untuk masa depan gerakan ini. Azza dan Naim sepakat bahwa mereka ingin melihat lebih banyak lagi anak muda, khususnya sesama mahasiswa, yang tergerak untuk ikut andil.

Sebab pada akhirnya, GRRM sedang menanam benih jangka panjang: sebuah kesadaran kolektif agar generasi muda memiliki rasa kepemilikan dan kepedulian yang tinggi terhadap fasilitas umum dan tempat ibadah di sekitar mereka. Melalui ayunan sapu dan bilasan air, mereka tidak hanya membersihkan tempat suci, tetapi juga merawat ruh gotong royong bangsa agar tetap hidup dan merawat Bumi Nusantara.


Posting Komentar

2 Komentar

  1. Bisa ditanamkan ke generasi berikutnya ,untuk membentuk generasi emas di 2030 mendatang!

    BalasHapus