Membuang Meja Judi dan Menjemput Prestasi, Inilah Wajah Baru Domino di Kota Kediri

Peletakan Batu Pertama Lomba Domino. (Foto: dok. Tanggap.co)

Selama berdekade-dekade, citra permainan domino di Indonesia seolah tak bisa lepas dari kepulan asap rokok di pos ronda, begadang hingga larut malam, dan bayang-bayang perjudian. Namun, sebuah gerakan besar sedang terjadi di Kota Kediri untuk mengubah wajah permainan rakyat ini menjadi olahraga intelektual yang bermartabat. Melalui deklarasi Federasi Olahraga Domino Nasional (ORADO) dan dukungan penuh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), domino kini resmi menyandang status sebagai olahraga prestasi. 

Perubahan ini bukan sekadar pergantian istilah dari permainan rakyat menjadi cabang olahraga. Melainkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap domino itu sendiri. Selama ini, domino kerap ditempatkan dalam ruang sosial yang identik dengan perjudian. Tidak mengherankan jika banyak masyarakat masih meragukan legitimasi olahraga ini. Menurut Kurniawan (40), perwakilan dari PWI Kediri Raya, media massa memiliki andil besar dalam membentuk stigma negatif di masa lalu. Kini, peran tersebut harus berbalik menjadi edukasi publik. 

"Stigma negatif yang selama ini diketahui masyarakat bahwa domino dekat dengan perjudian sekarang sudah berubah menjadi olahraga prestasi," ujar Kurniawan saat diwawancarai di sela kegiatan lomba domino di UIN Syekh Wasil Kediri. 

Pernyataan tersebut semakin diperkuat dengan bergabungnya ORADO sebagai anggota KONI Pusat pada tanggal 21 Mei 2026. Keputusan ini menjadi penanda bahwa domino tidak lagi dipandang sebagai sekadar permainan hiburan, melainkan bagian dari sistem olahraga nasional yang memiliki standar pembinaan dan prestasi. Ketua KONI Kota Kediri, Eko Agus Koko, menegaskan bahwa pemisahan antara judi dan olahraga terletak pada gaya hidup atletnya. 

"Tidurnya, makannya juga harus betul-betul dijalankan sesuai atlet. Itu yang membedakan dengan domino permainan judi," tegasnya. 

Salah satu tantangan terbesar dalam mempromosikan domino sebagai olahraga adalah pandangan bahwa kemenangan hanya ditentukan oleh faktor keberuntungan atau kartu yang bagus. Namun, KONI membantah hal tersebut.

"Walaupun kartunya itu jelek, kalau memang intelektualnya bagus, mereka bisa mengubah strateginya," jelas Eko Agus Koko. 

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa domino tidak jauh berbeda dengan olahraga intelektual, seperti catur atau bridge. Keduanya memiliki persamaan untuk menuntut kemampuan berpikir, konsentrasi, dan pengambilan keputusan yang matang. Karena itu, menilai domino semata-mata sebagai permainan keberuntungan merupakan penyederhanaan yang kurang tepat.

Keseriusan mengembangkan domino sebagai olahraga prestasi juga terlihat dari upaya memperkenalkannya ke lingkungan pendidikan. Adi Prayitno, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Kota Kediri, mengungkapkan rencana ambisius berupa program "DMS" atau Domino Masuk Sekolah. Dengan tujuan untuk mengalihkan energi anak muda ke kegiatan yang lebih bermanfaat. 

"Daripada di kesempatan longgar itu untuk bermain yang tidak berguna, lebih baik diisi dengan kegiatan yang nantinya bisa meraih prestasi," tuturnya. 

Antusiasme pelajar seperti Akbar (16), siswa SMAN 1 Kediri, menjadi bukti bahwa domino mulai diterima generasi muda sebagai sarana mengasah kemampuan berpikir sekaligus meraih prestasi. Sejak SMP, ia telah menekuni permainan ini dan kini mulai mengenal standar permainan profesional yang berbeda dari sekadar main kartu kuning di kampungnya. 

Target besar telah dipasang. Imam Wihdan Zarkasyi, Kepala Federasi ORADO, menyatakan pihaknya bergerak cepat agar domino bisa dipertandingkan dalam Porprov 2027. Tak hanya itu, atlet yang berprestasi bahkan diproyeksikan bisa mendapatkan beasiswa pendidikan tinggi. 

Baca juga : KMPS Jurnalistik Islam UIN Syekh Wasil Kediri Gelar Seminar Jurnalogia 2026

Dengan tagline "Menggetarkan Indonesia", domino sedang menempuh perjalanan panjang menghapus stigma. Optimisme terpancar kuat bahwa dalam waktu dekat, masyarakat tidak lagi memandang domino dengan sebelah mata. Bukan lagi soal taruhan uang di bawah remang lampu pos ronda, melainkan soal adu strategi di bawah sorot lampu podium juara.


Posting Komentar

5 Komentar