Fenomena Tren Olahraga Lari: Antara Kebutuhan Fungsi dan Gengsi Media Sosial

Foto: @TomTom via Pinterest

KEDIRI – Tren olahraga lari (jogging) kini tengah digandrungi oleh berbagai kalangan masyarakat. Namun, di balik maraknya fenomena ini, terdapat sudut pandang yang kontras di kalangan pelari antara mengutamakan fungsi alat olahraga atau sekadar mengikuti tren demi gengsi di media sosial. 

Hal tersebut terungkap dari pengakuan beberapa warga yang melakukan aktivitas olahraga di Lapangan Ngronggo. Nabil Wiharnanda (20), salah seorang pelaku olahraga lari, mengaku bahwa seluruh perlengkapan lari yang dikenakan murni dibeli karena faktor fungsi dan kebutuhan, bukan karena pengaruh tren. 

"Dibeli karena fungsi. Lagian ini harganya murah-murah banget yang aku pakai. Jadi enggak karena trending-trending di media sosial. Cari yang murah," ujar Nabil saat ditemui di Lapangan Ngronggo. 

Ia menambahkan bahwa perlengkapan biasa pun sudah sangat cukup untuk mendukung kesehatan. 

Nabil yang rutin berolahraga setiap hari bahkan membuktikan kegunaannya hingga sepatunya rusak akibat intensitas pemakaian yang tinggi. Baginya, pakaian yang nyaman seperti bahan yang tipis dan ringan jauh lebih penting daripada sebuah merek. Ia juga menegaskan tidak merasa kurang percaya diri meskipun tidak menggunakan pakaian atau sepatu dari merek yang sedang viral. "Yang penting tujuannya tetap olahraga lari," pungkasnya. 

Pandangan sedikit berbeda datang dari Fahri (17), seorang atlet Modern Pentathlon Indonesia (MPI) yang juga rutin berlatih lari dan renang setiap hari. Fahri tidak menampik bahwa menggunakan pakaian atau sepatu dari merek terkenal dapat meningkatkan rasa percaya diri. 

"Ya mungkin agak ya sudah bisa rada percaya diri. Soalnya kan enak dipandang gitu ya," kata Fahri. 

Meski harga perlengkapan lari bermerek saat ini cukup menguras kantong, Fahri menilai pengeluaran tersebut tetap menjadi investasi kesehatan yang baik selama barangnya benar-benar digunakan untuk berlatih, bukan sekadar untuk gengsi. Menariknya, sebagai seorang atlet, keterbatasan outfit bukanlah halangan baginya. Jika suatu saat lupa membawa perlengkapan khusus, ia mengaku akan tetap melanjutkan olahraga lari menggunakan kaos dan sepatu biasa. 

Ketika diminta tanggapan mengenai fenomena masyarakat yang tampil dengan pakaian serba bermerek saat jogging, Fahri menilai sebagian besar dari mereka hanya sekadar mengikuti tren sesaat. 

"Menurut saya sekedar mengikuti tren saja. Soalnya kan dipakai cuman satu kali, dua kali, habis itu orangnya sudah enggak olahraga lagi," tutur Fahri. 

Baca juga: Rutinitas Jogging Jadi Investasi Masa Depan Agar Hidup Sehat dan Bahagia

Fenomena di Lapangan Ngronggo ini menunjukkan bahwa meskipun gelombang tren perlengkapan lari bermerek terus mengguyur media sosial, esensi utama dari olahraga lari kembali pada konsistensi individu masing-masing dalam menjaga kesehatan.


Posting Komentar

10 Komentar