Lebih dari Sekadar Musik, Inilah Mengapa K-Pop Bisa Mengubah Gaya Hidup Anak Muda

Foto: www.pexels.com

KEDIRI — Dentum bas yang ritmis, koreografi yang presisi, serta visual menawan para idola asal Negeri Ginseng tidak lagi sekadar menjadi hiburan pelepas penat bagi generasi muda. Bagi sebagian besar pencinta K-Pop atau yang karib disapa K-Popers, fenomena global ini telah merangsek jauh ke dalam lini kehidupan sehari-hari. Gelombang Korea terbukti mampu mengubah total gaya hidup, cara berbusana, pengelolaan finansial, hingga cara pandang seseorang dalam menghadapi kerasnya dunia.

Bagi Selvira Diva Ardhinda (21), seorang penggemar K-Pop asal Kediri, perkenalannya dengan industri hiburan Korea Selatan telah membawa transformasi yang signifikan dalam hidupnya. Selvira mengenang bagaimana dirinya yang dulu cenderung acuh tak acuh terhadap penampilan fisik, kini berubah menjadi pribadi yang sangat peduli pada estetika berbusana. 

"Dulu itu aku kayak berpenampilan seadanya gitu, tapi setelah aku mengenal K-Pop, aku ngerasa pengen kayak gitu juga; kelihatan rapi, kelihatan keren. Berpengaruh jauh banget mengubah aku yang dulu seadanya sampai sekarang ngerasa harus peduli dengan fashion-ku dan bagaimana aku berpenampilan," ujar Selvira saat diwawancarai. 

Pengaruh tersebut tidak berhenti pada pakaian. Standar visual para idola Korea yang identik dengan kulit sehat dan tubuh proporsional memicu ketertarikannya untuk lebih merawat diri. Bahkan, kebiasaan harian seperti preferensi makanan pun ikut bergeser ke arah kuliner khas Korea, seperti ramyeon dan samyang. Hebatnya lagi, obsesi positif ini mendorong Selvira untuk mempelajari bahasa baru secara otodidak sejak tahun 2016, mulai dari menghafal huruf Hangul hingga memahami struktur kalimatnya. 

Lain Selvira, lain pula cerita Adzkia Khanza Tsabita (22). Bagi Adzkia, kepuasan menjadi seorang penggemar K-Pop disalurkan melalui apresiasi terhadap karya visual berupa merchandise resmi. Meskipun harganya kerap merobek kantong, desain karakter yang menggemaskan dan keterikatan emosional dengan grup favorit membuat barang-barang tersebut memiliki nilai magis tersendiri. 

Salah satu koleksinya yang paling berharga adalah sebuah photocard (PC) langka yang membutuhkan perjuangan ekstra serta bantuan seorang teman untuk mendapatkannya dengan harga yang masih masuk akal. Selain mengoleksi barang fisik, Adzkia juga sempat merasakan euforia berkomunikasi secara personal melalui aplikasi berbayar per bulan, seperti Bubble atau Lysn. Aplikasi ini memungkinkan penggemar menerima pesan teks, foto kasual, hingga rekaman suara langsung dari sang idola. 

"Itu rasanya happy sih, soalnya kayak kita kerasa kayak chattingan... Kadang tuh kalau kita pas nge-chat terus habis itu pembahasan dari idol-nya nyambung, jadi kayak, wah happy banget, apa jangan-jangan dia baca chat-ku ya? Perasaannya tuh kayak happy," tutur Adzkia dengan nada antusias. 

Membeli album, mengoleksi photocard, hingga berlangganan aplikasi obrolan premium sering kali mengundang stigma negatif dari masyarakat luar. Tidak sedikit yang melabeli hobi ini sebagai bentuk pemborosan atau perilaku konsumtif yang tidak berguna. 

Menanggapi pandangan sinis tersebut, Adzkia tidak menampik bahwa hobi ini memang memakan biaya yang tidak sedikit. Namun, bagi dirinya dan banyak penggemar lainnya, kuncinya terletak pada kendali diri dan manajemen keuangan yang sehat, bukan kepatuhan yang membabi buta. 

"Menurutku ya emang fakta sih, maksudnya beli merch itu lumayan uang yang dikeluarin. Tapi menurutku itu tergantung dari orangnya masing-masing. Kalau selagi kita mampu, kalau mau beli silakan. Tapi kalau ada keperluan lainnya yang lebih mendesak, itu sebenarnya enggak usah dipaksain. Idol pun sebenarnya lebih senang kalau kita lebih banyak interaksi dan mendukung dari kejauhan," jelas Adzkia dengan bijak. 

Di balik gemerlap lampu panggung dan riuh rendah teriakan histeris para fans, industri K-Pop sejatinya menyimpan sebuah nilai filosofis yang sangat mendalam mengenai kerja keras. Proses panjang yang harus dilewati oleh seorang trainee (calon idola) sebelum akhirnya bisa melakukan debut resmi menjadi pelajaran hidup yang paling berharga bagi para penggemarnya. 

Selvira mengungkapkan bahwa pelajaran terbesar yang ia petik dari para idolanya bukanlah cara menari atau bernyanyi, melainkan mentalitas baja untuk tidak pernah menyerah pada keadaan. 

"Pelajaran positifnya yaitu enggak mudah menyerah. Karena idol itu sebelum mereka menjadi idol harus menjalani training yang mana itu kadang ada yang sampai lama banget, dari kecil pas waktu gede baru bisa jadi idol. Jadi harus terus berjuang, terus berusaha bagaimanapun tantangan yang ada tetap diterobos saja dan akhirnya membawa hasil," pungkas Selvira menutup obrolan. 

Baca juga : Fluktuasi Harga Hewan Kurban Menjelang Hari Raya IdulAdha

Pada akhirnya, K-Pop bagi generasi muda masa kini telah berevolusi menjadi sebuah ekosistem gaya hidup yang utuh. Ia bukan lagi sekadar komoditas industri musik, melainkan sebuah ruang rekreasi emosional, wadah pembentukan identitas visual, sekaligus ruang belajar tentang bagaimana cara mengelola keuangan serta merawat mimpi dengan kerja keras yang tanpa batas.





Posting Komentar

11 Komentar