Menjaga Mimpi di Balik Bet Tenis Meja: Kisah Seorang Atlet Asal Tulungagung


moment saat Bayu meraih jura Tenis Meja. Sumber by Narasumber

KEDIRI Pandangan matanya tertuju pada bola kecil yang memantul cepat di atas meja tenis. Di tangan kanannya, bet tenis meja tergenggam erat sebagai simbol perjalanan panjang yang telah ia jalani sejak usia 10 tahun. Muhammad Bayu Fikrul Khoir, kini berusia 23 tahun, memahami bahwa tenis meja bukanlah olahraga yang mudah. Permainan ini menuntut ketepatan, konsentrasi, dan ketahanan mental yang tinggi. Namun, justru karena tantangan tersebut serta peluang untuk menjadi atlet profesional yang masih terbuka, Bayu memutuskan untuk menekuni tenis meja sejak duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar dan terus bertahan hingga sekarang.

Kini, lebih dari sepuluh tahun berlalu, konsistensi tersebut telah membentuk karakter Bayu yang kuat. Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Syekh Wasil Kediri ini tidak hanya aktif sebagai atlet, tetapi juga menjalankan dua usaha yang ia bangun dari nol, yaitu merek pakaian yang dirilis pada tahun 2023 dan bisnis reseller iPhone.

Segitiga Emas Kehidupan: Tulungagung dan Kediri

Menjalani tiga peran sekaligus sebagai mahasiswa, atlet, dan pebisnis bukanlah perkara mudah. Bayu mengakui tantangan terbesar yang dihadapinya setiap hari adalah manajemen energi. Ia harus membagi waktu, menjernihkan pikiran, dan menjaga fisik agar tidak tumbang di tengah kepungan tanggung jawab yang menguras tenaga.

Geografi juga menjadi tantangan tersendiri bagi hidupnya. Bayu berdomisili di Tulungagung, tempat ia memutar roda bisnis pakaian dan mengelola logistik usaha. Di sisi lain, ia harus menempuh perjalanan ke Kediri demi menunaikan kewajiban akademisnya di bangku perkuliahan. Sementara untuk bisnis gawai, ia kerap kali harus melakukan perjalanan luar kota demi melayani sistem cash on delivery (COD) bersama para pelanggannya. Di sela-sela kepadatan itu, kepalanya dipaksa terus berputar demi mengevaluasi strategi pasar dan melahirkan ide-ide kreatif agar bisnisnya tidak tertinggal oleh tren masa kini.

"Bisnis saya saat ini mungkin masih di tahap merangkak karena membagi waktu, pikiran, dan tenaga itu sangat sulit. Tapi mental, personal branding, dan keberanian mengambil keputusan adalah modal utama yang saya pegang" ucap Bayu saat diwawancarai oleh tim Tanggap pada Kamis, 04/06/2026.

Untuk membagi waktu antara kuliah, olahraga, dan bisnis, Bayu menerapkan disiplin yang ketat. Saat jam kuliah, ia berkomitmen untuk hadir tepat waktu dan fokus belajar. Jika kondisi fisik dan jadwal memungkinkan, malam harinya digunakan untuk berlatih tenis meja. Sementara itu, urusan bisnis ia jalankan di waktu luang dengan sistem kerja yang fleksibel. Meski usahanya terkadang mengalami kendala karena keterbatasan waktu, Bayu tetap bertahan dan menganggap hal tersebut sebagai pencapaian yang patut disyukuri.

Membawa Nama Almamater ke Podium

Sumber by Narasumber

Pelajaran terbesar yang Bayu peroleh dari tenis meja adalah pentingnya fokus dan konsistensi dalam menjalani kehidupan. Pengalaman yang ia dapatkan selama berlatih dan bertanding menjadi bekal berharga dalam menghadapi berbagai tantangan. Di lingkungan kampus, dedikasinya sebagai atlet mendapat dukungan dan apresiasi dari teman-teman maupun dosen yang memahami perjuangannya dalam menyeimbangkan kuliah, olahraga, dan usaha yang dijalaninya.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru, Bayu mengantongi satu impian besar, membawa nama UIN Syekh Wasil Kediri terdengar lantang di kancah nasional, setidaknya di kalangan komunitas atlet tenis meja melalui torehan prestasi dan gelar juara. Target pribadi itu ia rawat sebagai utang janji yang harus dilunasi sebelum mengenakan toga kelulusan.

Meski masih menempuh pendidikan, Bayu sudah memiliki gambaran yang jelas tentang masa depannya. Setelah lulus kuliah, ia berencana untuk lebih fokus mengembangkan bisnis, guna membantu meningkatkan kondisi ekonomi keluarga. Pengalaman saat keluarganya menghadapi kesulitan finansial menjadi pelajaran berharga yang memotivasinya untuk terus bekerja keras agar keadaan serupa tidak terulang kembali. 

"Saat ekonomi surut, itu rasa paling menyakitkan bagi saya, di mana orang seolah tidak ingin melihat kita. Intinya saya mau menata ekonomi dulu untuk membantu orang tua dan adik saya, urusan karir lain bisa menyesuaikan," tegasnya.

Baca juga : Lebih Dari  Sekedar Musik, Inilah Mengapa K-Pop Bisa Mengubah Gaya Hidup Anak Muda

Mengakhiri perbincangan, Bayu menyampaikan pesan untuk anak muda atau mahasiswa yang tengah berjuang meraih impian mereka. Ia mengajak untuk tidak mudah menyerah pada tujuan yang tampak sulit dicapai. Menurutnya, setiap perubahan berawal dari keberanian untuk mengambil langkah pertama dan terus berusaha meskipun menghadapi berbagai tantangan.

"Saat kita mulai bergerak, pasti ada perubahan di situ. Harus lebih kreatif, tetap semangat, dan jangan lupa untuk sering menjalin hubungan baik serta memperluas relasi dengan sesama," pungkasnya menutup obrolan.


Posting Komentar

11 Komentar